banner 728x90
banner 728x90
banner 728x90

Ketua RMI NU Jawa Timur
KH. Abdul Hakim Hidayat

Assalamu’alaikumWr Wb.


Syukur Alhamdulillah website RMI Jawa Timur telah selesai di update agar lebih banyak dimanfaatkan bagi Jam’iyah ini secara maksimal. Oleh karena itu, saya bersyukur media informasi ini akan mudah di akses oleh publik lebih-lebih warganahdliyin.


Sejauh ini, pesantren dikenal dengan kemampuan mengajarkan santri mampu membaca kitab kuning. Karya-karya ulama telah selesai dikuasai oleh santri. Kemampuan santri dalam memahami pemikiran-pemikiran ulama dalam bidang Fiqh, Tasawuf dan Aqidah sudah tidak dapat diragukan lagi. Kondisi ini dapat terlihat dalam tradisi Bahtsul Masa’il, baik yang diselenggarakan dalam level lokal pesantren maupun level Nasional.


Dialog santri dalam forum Bahtsul Masa’il mampu mengungkap pemikiran-pemikiran ulama sebagai landasan dalam menjawab problematika umat islam. Tentu, kemampuan menyampaikan gagasan ulama ini didasarkan pada kompetensi santri dalam membaca kita-kitab yang berjilid-jilid. Terkadang, dalam forum Bahtsul Masa’il juga mampu mengomentari tulisan-tulisan yang dipandang salah ketik pada satu terbitan tertentu. Bahkan mereka juga mampu mengomentari kesalahan baca peserta lain dalam forum Bahtsul Masa’il tersebut.


Selain itu, alumni-alumni pesantren bertebaran yang memiliki kompetensi sastra dengan merangkai teks-teks arab menjadi sebuah syi’ir. Kemampuan para alumni ini diakui secara nasional, sebut saja K.H. Zulfa Mustofa yang alumni pesantren Kajen ini sering membuat sebuah syi’ir dalam ceramah-ceramahnya. Sastrawan lain yang berasal dari pesantren adalah KH. Musthofa Bisri. Sebagai seorang santri Alumni pesantren Lirboyo ini mampu mengekspresikan pikiran-pikirannya dalam bentuk puisi. Karya-karya puisinya sejajar dengan para sastrawan nasional.


Dalam bidang karya tulis, santri pesantren yang telah melahirkan karya tulis ilmiah juga berjejer di rak-rak perpustakaan. Kemampuan santri menulis tidak hanya sekedar menyadur dari beberapa karya ulama klasik, akan tetapi juga dijumpai alumni pesantren yang melakukan penelitian. Kemampuan santri dalam melakukan penelitian ini sering kali lahir dari pesantren yang mempunyai lembaga pendidikan tinggi pesantren, seperti Ma’had Aly Sukorejo Situbondo. Melihat fakta di atas, tradisi literasi di pesantren cukup memadai. Hanya saja, jika melihat jumlah pesantren sebanyak 23.000 yang tersebar di Indonesia, tentu kondisi santri yang memiliki kompetensi literasi jauh dari harapan.


Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga media informasi ini dapat bermanfaat bagi ummat dan memberikan informasi yang edukatif khususnya terkait dengan kepesantrenan baik di Jawa Timur dan juga Nasional.


Terimakasih..!


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Surabaya, Desember 2024

banner 728x90